Unggulan

Tidak Harus Lulusan IT, Ini Tips Jitu Berkarir di Bidang Tech dan Artificial Intelligence dari Nol!

 

Pekerjaan di bidang tech semakin banyak peminatnya, beragam profesi yang berkaitan dengan Artificial Intelligence banyak bermunculan (Photo by Nicole Wolf on Unsplash)

Apakah saat ini kamu berkarir di sektor non-IT dan sedang merasakan karirmu berjalan di tempat dengan gaji yang segitu saja, sementara perkembangan Artificial Intelligence (AI) terus menggeser pekerjaanmu?

Memang tidak bisa dipungkiri jika perkembangan Artificial Intelligence (AI) memicu kekhawatiran sebagian besar para pekerja non-IT. Namun dengan maraknya fenomena ini, mengapa tidak manfaatkan momentum ini untuk memulai karir saja ke bidang tech?

Terlebih sekarang ini sudah banyak profesi di bidang tech yang bermunculan berbasis Artificial Intelligence (AI), mulai dari Data Analyst, Data Scientist, Cybersecurity Analyst, hingga Artificial Intelligence & Machine Learning Engineer.

Meski memulai karir dari yang sebelumnya non-IT ke bidang tech tidaklah mudah dikarenakan perlu mempelajari skill teknis, namun jika bidang ini ditekuni dengan serius tentu akan membuka berbagai kesempatan untuk mendapatkan kompensasi tanpa batas dari perusahaan.

Industri Teknologi dan Peluang Emas Menjadi Ahli Artificial Intelligence

Kemampuan dalam menggunakan Artificial Intelligence (AI) kini menjadi faktor yang menentukan nilai seseorang di dunia kerja, bahkan pekerja yang mampu mengelola Artificial Intelligence (AI) berpeluang mendapatkan gaji hingga jabatan tinggi. 

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari laman CNBC Indonesia disebutkan bahwa di Indonesia sendiri para bos AI trainer dapat menerima gaji di rentang US$4.000 (Rp 62,9 juta) per bulan. Sementara bos AI engineer menerima US$3.800 (Rp 59,8 juta), dan bos AI research scientist menerima rata-rata gaji US$3.600 (Rp 56,6 juta). Sedangkan para senior dengan pengalaman 5-10 tahun mendapat rata-rata gaji US$ 2.400 (Rp 37,7 juta), US$ 2.200 (Rp 34,6 juta) dan US$ 2.000 (Rp 31,5 juta). Masing-masing untuk bidang AI research scientist, AI engineer dan AI trainer.

Bagi para pekerja junior atau mereka yang baru memulai karir di bidang AI dengan pengalaman 1-3 tahun mendapat gaji yang rata-ratanya sama setiap bulan, yakni US$700 (Rp 11 juta).

Jadi tidak heran jika kebutuhan industri akan tenaga ahli di bidang tech yang menguasai Artificial Intelligence (AI) menawarkan kompensasi yang jauh lebih tinggi, dikarenakan pemanfaatan bidang teknologi ini memang belum diterapkan secara menyeluruh. Dan tentunya ini akan menjadi kesempatan besar bagi kamu yang ingin memulainya.

Kerja di Bidang Tech Tanpa Gelar IT? Bisa!

Masifnya adopsi teknologi, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kemampuan di bidang tech semakin tinggi. Untuk memulai karir di bidang tech tidak hanya kemampuan non teknis yang diperlukan, namun juga diperlukan kemampuan teknis.

Adapun keterampilan dasar yang harus dimiliki jika ingin berkecimpung di bidang tech ialah menguasai berbagai konsep matematika, mulai dari aljabar, teori probabilitas, dan statistik.

Asah juga keterampilan dalam bahasa programming berupa Python, C++, Ruby, Swift, JavaScript. Bahasa pemrograman sendiri berupa peraturan penulisan yang ditujukan untuk memerintahkan suatu perangkat untuk melakukan instruksi tertentu. Hal ini diperlukan terlebih jika kamu terlibat dalam pembuatan website atau software.

Di tengah berkembang pesatnya Artificial Intelligence (AI), kamu juga perlu belajar Machine Learning (ML) atau mesin yang dikembangkan untuk bisa belajar dengan sendirinya tanpa arahan dari penggunanya. Adapun prinsip cara kerja Machine Learning (ML) meliputi pengumpulan data, eksplorasi data, pemilihan model, hingga memberikan pelatihan terhadap model yang dipilih.

Dalam bekerja di bidang tech, kamu juga perlu menguasai bagaimana menganalisis data serta angka terhadap performa suatu website atau software. Cobalah mempelajari elemen-elemen dalam bidang pekerjaan ini, seperti ilmu statistika, SQL (Structured Query Language), hingga Python.

Profesi Baru di Era Artificial Intelligence (AI)

Dampak perkembangan Artificial Intelligence (AI), bukan melulu soal kekhawatiran pekerjaan manusia yang tergantikan. Namun, justru teknologi ini melahirkan berbagai profesi baru. 

Selain Artificial Intelligence Engineer, berikut beberapa profesi yang semakin banyak dibutuhkan seiring berkembangnya Artificial Intelligence (AI).

1. Data Analyst

Seorang data analyst memiliki peran dalam mengobservasi informasi perusahaan yang dibutuhkan untuk mengambil langkah ke depan. Profesi ini memerlukan kemampuan untuk mengolah dan menerjemahkan informasi berupa data kemudian membuatnya dalam bentuk laporan. Selain itu, seorang data analyst juga harus memiliki kemampuan dalam perancangan dan pemeliharaan sistem data.

2. Cyber Security 

Ancaman siber bisa datang kapan saja, oleh karena itu kebutuhan akan tenaga ahli di bidang cyber security pun terus meningkat. Dalam tugasnya, cyber security banyak berperan dalam melindungi sistem, jaringan, dan data perusahaan dari serangan digital seperti peretasan hingga kebocoran data. Oleh karena itu, untuk menjadi cyber security diperlukan pengetahuan tentang sistem operasi, bahasa pemrograman hingga cloud security.

3. Full Stack Developer

Salah satu profesi yang memiliki permintaan tinggi di perusahaan ialah full stack developer, yang tak lain merupakan juru kunci dari dunia pengembangan website. Adapun perannya yakni mengembangkan website dan situs secara menyeluruh. Untuk menjadi full stack developer, kamu perlu menguasai keterampilan dalam manajemen basis data, dasar-dasar keamanan website hingga pengembangan front-end dan juga back-end.

4. Cloud Engineer

Dengan berkembangnya teknologi informasi di era modern, banyak perusahaan yang menyimpan data di cloud karena kecepatan dan keamaannya yang jauh lebih optimal. Di sinilah peran cloud engineer dibutuhkan untuk merancang, membangun, dan memelihara infrastruktur cloud yang scalable dan efisien.

Jika kamu tertarik untuk menjadi cloud engineer, maka kamu harus memiliki beberapa keterampilan khusus, seperti bahasa pemrograman, Linux dan administrasi sistem, DevOps dan automasi, hingga keamanan data dan jaringan.

5. UI/UX Designer

Bukan hanya kecanggihan kodenya, keberhasilan aplikasi juga terlihat dari seberapa nyaman pengguna saat mengoperasikannya. Dan di sinilah peran UI/UX designer menjadi sangat krusial.

Meski keduanya merupakan profesi yang berbeda, namun kedua profesi tersebut saling melengkapi. UI (User Interface) bertugas untuk membuat tampilan visual aplikasi maupun website menjadi menarik. Sementara UX (User Experience) menyiapkan produk yang bisa dengan nyaman pengguna gunakan.

Profesi UI/UX Designer kini menjadi salah satu pekerjaan paling banyak dicari perusahaan. Untuk kamu yang tertarik bekerja di profesi ini, kamu memerlukan keterampilan seperti riset pengguna (UX Research), desain visual dan estetika, serta pembuatan kerangka kerja (wireframing dan prototyping).

Strategi Lolos Kerja di Bidang Tech Tanpa Background IT

Bidang tech menjadi bidang yang paling menjanjikan di dunia profesional saat ini. Kalau kamu punya keinginan career switch atau berkarir di perusahaan tech tapi terhambat latar belakang pendidikan. Tenang saja, tetap bisa kok! Sebab industri ini lebih menilai keterampilan daripada ijazah. Mari simak tips jitu tembus industri tech impian, murni dimulai dari nol!

1. Tentukan Bidang yang Ingin Ditekuni dan Mulai Pelajari Keterampilan Dasar yang Dibutuhkan

Profesi di bidang tech saat ini sangat banyak, seperti software development, cyber security, UI/UX design, atau data science dan Artificial Intelligence (AI). Setelah kamu tahu bidang yang sesuai dengan passion dan potensi karirmu. Maka langkah selanjutnya ialah melakukan riset mengenai prospek pekerjaan dan pelajari keterampilan dasar yang dibutuhkan.

Kamu bisa mempelajari dan memperdalam keterampian lewat tutorial di Youtube atau bisa juga lewat DQLab.

DQLab merupakan platform edukasi pertama yang mengintegrasi fitur ChatGPT yang memudahkan pemula untuk mengakses informasi mengenai data science secara lebih mendalam.

Kenapa harus belajar di DQLab?

Kelebihan dari DQLab ialah metode pembelajaran yang menerapkan konsep HERO yaitu Hands-On, Experiential Learning & Outcome-based, yang dirancang ramah untuk pemula.

Belajar di DQLab bisa membantu pemula yang ingin berkarir di bidang tech lewat kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, seperti pemahaman Python, SQL, hingga visualisasi data, semuanya disajikan secara berjenjang dan mudah diikuti.

Jika kamu ingin belajar dan memperdalam teori, kamu bisa melihat materi dan rekaman sesi yang bisa diakses selamanya dengan modul yang lengkap dan relevan sesuai kebutuhan industri.

Di DQLab, kamu tidak melulu belajar teori namun juga praktik langsung dengan tools yang biasa digunakan di dunia kerja. Tidak hanya itu, selama mengikuti kursus, kamu juga akan belajar tentang case study yang bisa dijadikan portfolio yang berguna untuk melamar kerja.

Fitur lain yang cukup menarik dari DQLab ialah fitur feedback secara real-time, sehingga jika kalian mencoba mengerjakan suatu code atau analisis data, fitur AI nantinya akan segera memberitahu saat ditemukan error dan lengkap beserta saran perbaikannya. 

DQLab memberikan kemudahan untuk belajar kapanpun sesuai jadwal yang bisa diatur sendiri. Jadi, tidak perlu menyesuaikan jadwal dengan instruktur atau kelas tertentu. Selain itu, juga memungkinkan setiap individu untuk belajar dengan tempo mereka sendiri. 

Tidak hanya itu, di DQLab kamu juga akan dibimbing secara intensif dan konsultasi bersama mentor dari awal hingga akhir program.

Setelah menyelesaikan modul, kamu juga akan mendapatkan sertifikat digital dan karya portofolio yang sangat berguna untuk meningkatkan kredibilitas saat melamar kerja atau mengajukan kenaikan karir.

2. Bangun Portfolio Lewat Proyek Pribadi

Portfolio menjadi dokumen pendukung yang penting jika kamu ingin melamar pekerjaan, karena lewat portfolio, seorang rekruter bisa melihat hasil projek yang menujukkan kemampuan hingga pengalaman.

Bagi kamu yang belum memiliki pengalaman di bidang tech, kamu bisa memasukan hasil projek portfolio selama kamu mengikuti bootcamp atau webinar.

Di dalam portfolio, kamu bisa menjelaskan projek yang dikerjakan, tujuannya, tools yang digunakan, tantangan serta solusi yang dihadapi. Perlu diingat bahwa portfolio yang baik bukan hanya menujukkan hasil namun juga cara berpikir saat mengahadapi tantangan.

3. Cari Pengalaman Kerja Lewat Magang atau Freelance

Jika belum memiliki pengalaman di bidang tech sama sekali, cobalah untuk memulai karir dari magang atau freelance. Hal ini diperlukan agar kamu bisa lebih mengenal lingkungan kerja, mengembangkan keterampilan, dan juga membangun koneksi.

4. Perluas Koneksi dan Bangun Personal Branding

Memperluas koneksi sangatlah penting untuk kamu yang ingin memulai karir di bidang tech. Kamu bisa memulainya dengan bergabung di komunitas teknologi, menghadiri acara yang membahas tentang teknologi, aktif membagikan konten atau ide bermanfaat mengenai teknologi lewat Linkedln atau media sosial profesional untuk membangun personal branding.

Jadi buat kamu yang ingin memulai karir sebagai Artificial Intelligence Engineer atau profesi lainnya bidang tech tapi dari lulusan non-IT, sangat mungkin diwujudkan. Kuncinya adalah mulai asah keterampilan dengan ikut pelatihan dan bangun portfolio lewat proyek mandiri.  Yuk, segera daftar Bootcamp Machine Learning and AI for Beginner di DQLab.

Komentar

  1. menarik nih DQLab. anakku berminat banget serius di robotika dan salah satu yang dipelajari adalah AI. DQLab bisa untuk mulai usia berapa ya?

    BalasHapus
  2. Sebagai lulusan Sistem informasi sejujurnya saya pun sangat ingin bekerja di sektor IT, namun karena pengalaman bekerja belum ada di sektor spesifik tersebut jadi hanya bisa di lingkup digital marketing, socmed specialist, web administrator saja.

    Menarik ya, kalau ikutan bootcamp di DQLab. Rencana switch karir ke bidang IT lebih terbuka. Step nya jelas juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bootcamp di DQLab pasti bakal ngebantu banget buat bikin roadmap dan nambah portofolio teknis. Semangat terus buat switch karirnya!

      Hapus
  3. Artikelnya berat juga bagi saya yang bukan basic IT atau programer tapi sangat menarik bagi saya. Karena dunia tech ini sangatlah penting sekarang ini. Beruntung bagi yang ahli di bidang ini. Dari mengolah data mentah sampai menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Saya dan istri juga pengen anak-anak kami juga bisa terjun ke dunia tech ini karena menjanjikan sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih dunia tech emang luar biasa potensinya sekarang. Mana sekarang banyak aplikasi belajar coding yang seru buat anak-anak mulai dari dasar. Semoga lancar ya rencananya, Pak Lazwardy

      Hapus
  4. Nah, ini topik yang makin relevan banget sekarang. Dunia kerja berubah cepat, dan ternyata belajar teknologi atau AI nggak harus selalu dimulai dari latar belakang IT. Yang penting mau belajar pelan-pelan dan konsisten. Buat yang sedang kepikiran career switch, artikel ini bisa jadi teman ngobrol sekaligus penyemangat untuk mulai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget! Setuju kalau kuncinya ada di konsistensi dan kemauan belajar. Zaman sekarang tools AI juga makin user-friendly, jadi siapa saja bisa coba.

      Hapus
  5. Portofolio ini mungkin bisa juga dimulai sejak kecil ya, karena makin banyak juga kursus sejak SD (atau lebih awal lagi bahkan?) yang berbasis teknologi informasi. Kalau makin awal dimulai mungkin basisnya jadi makin kuat dan makin kaya pengalamannya, tapi sebetulnya seperti Kakak sampaikan, bisa juga bahkan baru memulai setelah sebelumnya berkarier di bidang lain ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mba Nirwanda. Mulai dari kecil itu bagus buat bentuk mindset, tapi switch career saat dewasa juga terbukti banyak yang sukses karena modal pengalaman kerja sebelumnya.

      Hapus
  6. Menarik banget pembahasannya, apalagi buat yang lagi kepikiran career switch ke dunia teknologi dan AI. Ternyata mulai dari nol nggak seseram yang dibayangkan, asal mau belajar bertahap dan konsisten.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget! Kuncinya emang konsisten Pak Diaz

      Hapus
  7. Kalau kepikiran untuk switch karier ke bidang IT, ternyata nggak harus selalu dimulai melalui bangku kuliah dan mundur sebentar untuk belajar dari awal ya. Belajar bidang spesifilk lalu ikut magang atau freelance buat naikin portofolio ternyata bisa juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, bukti pernah bikin project atau kerja freelance maupun magang bisa nilai kuat buat modal pindah jalur karier

      Hapus
  8. Ternyata yang demikian bisa dipelajari yaa, apalagi belakangan ini ada banyak platform belajar yang bisa kita ikuti course/kelasnya. Benar-benar definisi di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, hal penting niat dan konsisten, pasti lama-lama bisa

      Hapus
  9. Semangat! Jaman sekarang saya juga melihat yang kuliah jurusan apa, eh pas. Diangkat PPPK kok ga sesuai jurusannya
    Ibarat perekrutan reporter, mau sarjana apa saja selagi berani dan atraktif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget! Sekarang yang penting skill, mental, dan cara komunikasi. Jurusan kuliah sering cuma buat syarat masuk saja

      Hapus
  10. Sudah terbayang keseruan jika terpilih menjadi salah satu peserta Bootcamp Machine Learning & AI for Beginner dari DQLab.
    Semoga mbak Sharfina juga bisa menuliskan keseruan tsb di artikel terpisah. Bakal highly recommend buat disimak putra saya yg ambil Bisnis Digital di sekolah kejuruannya

    BalasHapus

Posting Komentar