Pemandangan Jakarta dari Puncak Monas (Dok.pribadi)
Dengan jatah waktu 10 menit, di sini pemandu menceritakan
asal usul Monas yang memiliki tinggi 132 meter itu. Jadi lewat paparannya,
Monas didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia
dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial.
Arsitek Monas saat itu adalah Frederich Silaban yang juga
merancang desain pembangunan Masjid Istiqlal. Sesuai keinginan Bung Karno,
Monas berupa tugu yang tegak berdiri dengan cawan sebagai wadah di bagian
bawahnya. Bentuknya disebut Lingga-Yoni, yang menandakan simbol hubungan sakral
antara laki-laki dan perempuan sekaligus lambang kesuburan. Berhubung waktu kami cuman sebentar, kami pun tidak bisa
melihat ruangan yang berada Monas secara keseluruhan. Jadi menurut pengelola
Monas, di bagian dasar monumen, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Kedua anak sekolah melihat Jakarta dari Puncak Monas (Dok.pribadi)
Di dalamnya ada diorama dari masa pra sejarah hingga Orde
Baru. Kemudian di bagian dalam cawan monumen terdapat ruang kemerdekaan
berbentuk amphitheater yang menyimpan naskah asli teks proklamasi.
Usai melihat Monas dari jarak dekat, kami pun lanjut
mengunjungi Masjid Istiqlal, yang merupakan masjid terbesar di Indonesia bahkan
Asia Tenggara.
Bersama pengurus Masjid Istiqlal, Ia menjelaskan bahwa
masjid ini dirancang oleh arsitek yang sama yang membangun pembangunan Monas,
yaitu Frederich Silaban yang memenangkan sayembara desain masjid nasional.
Kubah utama masjid ini berdiameter 45 yang melambangkan hari kemerdekaan
Republik Indonesia.
Kemudian lantai yang terdiri dari 5 lantai, menyimbolkan
lima sila Pancasila serta rukun Islam. Sedangkan 12 tiang yang berada di dalam
Masjid Istiqlal merupakan simbol kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masjid Istiqlal (Dok.pribadi)
Di tengah hembusan angin yang masuk melalui ventilasi, aku
pun mendengarkan paparan terkait Masjid Istiqlal ini dengan seksama. Menurut
pengurus, masjid ini menerapkan gaya arsitektur Indonesia dan Timur Tengah.
Kesejukan masjid Istiqlal ini juga bikin kita nyaman
berlama-lama dikarenakan sang arsitektur mengusung konsep ventilasi alami yang
muncul dari balik dinding. Lantainya juga dilapisi marmer yang mampu menyerap
panas yang menyentuh permukaannya. Coba bayangin kalau enggak ada ventilasi
alam, berapa banyak pendingin yang musti dipasang di Masjid Istiqlal?
Usai penjelasan yang cukup panjang oleh pengurus Masjid
Istiqlal. Kami pun mengisi perut di Terasultan yang masih berada di kompleks
Masjid Istiqlal.
Jujur saya baru tahu juga kalau di kompleks Masjid Istiqlal
terdapat Resto Timur Tengah yang menyajikan menu nasi kebuli, nasi mandhi, dan
nasi kabsah.
Makan siang kali ini super enak sekali, akhirnya aku bisa
menikmati nasi kebuli yang mantap rasanya! Kombinasi rempah nasinya menciptakan
perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang khas. Ditambah es teh leci
sebagai minuman pendamping yang manis dan juga segar. Pokoknya kalau
kamu ke Masjid Istiqlal, wajib datang ke Terasultan. Mantap betul
rasanya!
Nasi kebuli di Terasultan (Dok.pribadi)
Nah, setelah makan dan melaksanakan salat zuhur, kami
beranjak ke Terowongan Silaturahmi. Selain sebagai ikon kebhinekaan,
pembangunan terowongan ini dibangun guna memudahkan akses jamaah antar-bangunan
rumah ibadah untuk memenuhi kebutuhan ruang parkir tanpa mengganggu arus lalu
lintas saat ini. Terowongan Silaturahmi Istiqlal- Katedral (Dok.pribadi)
Kami tidak lama berada di Terowongan Silaturahmi ini, dan
langsung menuju Museum Katedral yang letaknya berada di kompleks Gereja
Katedral.
Diresmikan pada 28 April 1991, Museum Katedral jadi saksi
bisu perkembangan Gereja Katolik di Indonesia. Pembuatan Museum Katedral
diprakarsai oleh pastor kepala Katedral pada waktu itu, yaitu Peter Rudolf
Kurris. Hal ini berawal dari rasa cinta Kurris terhadap sejarah dan benda-benda
bersejarah.
Di sini kami bisa melihat koleksi benda liturgi bersejarah,
berbagai koleksi dan catatan sejarah perkembangan agama katolik.
Setiap ruangan di dalam museum ini memiliki beberapa zona.
Di bagian pertama, kita melihat zona yang mengisahkan sosok Pastor Rudolphus
Kurris. Kemudian sejarah bagaimana agama Katolik dibawa masuk para misionaris
ke Indonesia, sampai ke masa keuskupan saat ini.
Lanjut ke lantai dua, kami pun melihat buku Paduan Suara
Sesilia, saat mereka bernyanyi saat pemberkatan Katedral Jakarta pada tanggal
21 April 1901. Sepeda Onthel Milik Pater Jan Weitjen,SJ (Dok.pribadi) Dan masih di lantai yang sama namun ruangan berbeda, di sini
aku juga melihat benda-benda peninggalan uskup, seperti jubah, peralatan misa, hingga replika altar. Selain benda peninggalan uskup, kami pun diajak melihat buku
baptis dan buku catatan pernikahan. Dua buku itu dipajang dalam sebuah etalase
dan menjadi salah satu dokumen pelayanan pertama Gereja Katedral di Batavia. Tak terasa hari pun semakin sore, setelah berkunjung ke
Museum Gereja Katedral, kami pun menyantap early dinner di Kedai Tjikini.
Kedai berkonsep vintage ini bikin suasana semakin syahdu. Di sini, aku dan peserta lainnya menutup perjalanan mencari
cerita Jakarta dengan berbagi akun Instagram untuk kita saling follow. Ah
sungguh momen perjalanan yang manis. |
Komentar
Posting Komentar