Langsung ke konten utama

Unggulan

Tidak Harus Lulusan IT, Ini Tips Jitu Berkarir di Bidang Tech dan Artificial Intelligence dari Nol!

  Pekerjaan di bidang tech semakin banyak peminatnya, beragam profesi yang berkaitan dengan Artificial Intelligence banyak bermunculan (Photo by Nicole Wolf on Unsplash) Apakah saat ini kamu berkarir di sektor non-IT dan sedang merasakan karirmu berjalan di tempat dengan gaji yang segitu saja, sementara perkembangan Artificial Intelligence (AI) terus menggeser pekerjaanmu? Memang tidak bisa dipungkiri jika perkembangan Artificial Intelligence (AI) memicu kekhawatiran sebagian besar para pekerja non-IT. Namun dengan maraknya fenomena ini, mengapa tidak manfaatkan momentum ini untuk memulai karir saja ke bidang tech ? Terlebih sekarang ini sudah banyak profesi di bidang tech yang bermunculan berbasis Artificial Intelligence (AI), mulai dari Data Analyst, Data Scientist, Cybersecurity Analyst, hingga Artificial Intelligence & Machine Learning Engineer. Meski memulai karir dari yang sebelumnya non-IT ke bidang tech  tidaklah mudah dikarenakan perlu mempelajari skill teknis, na...

Menelusuri Sudut Bersejarah Penuh Cerita di Jakarta, Mulai dari Glodok hingga Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral


Foto bersama peserta di Masjid Istiqlal (Dok. Wahana Edukasi)



Tempat bersejarah di Jakarta memiliki daya tarik tersendiri dan perlahan telah menjadi destinasi wisata populer di ibu kota. 

Nah buat kamu yang berencana berlibur atau menghabiskan akhir pekan bersama teman atau keluarga, aku mau ajak kamu buat mencoba berkunjung ke sederet tempat bersejarah di Jakarta yang belum lama ini aku kunjungi. 

Tepatnya tanggal 11-12 November 2023, aku berkesempatan mengikuti walking tour selama dua hari yang diselenggarakan oleh Wahana Edukasi bersama Disparekraf DKI Jakarta dan juga Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Hari Selasa (11/11) pukul 08.00 WIB, tur dimulai dengan mengunjungi kawasan Pancoran-Glodok yang terletak di Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Bagi yang belum tahu, Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, daerah ini dikenal sebagai pecinan terbesar di Batavia.

Dari paparan yang disampaikan pemandu wisata yaitu Mas Rizky, beliau mengatakan bahwa dibangunnya kawasan pecinan Glodok karena dahulu pernah terjadi pembantaian etnis Tionghoa oleh Belanda yang dilatarbelakangi banyaknya masyarakat Tionghoa yang datang ke Batavia.

Tour guide memaparkan sejarah Glodok (Dok.pribadi)

Puncaknya di tahun 1740, ketegangan memuncak. VOC menjalankan razia besar-besaran terhadap orang Tionghoa. Gerombolan Tionghoa yang resah mulai mempersenjatai diri.

Untuk menghindari kerusuhan serupa, Belanda pun mengatur pemukiman orang Tionghoa di luar Benteng Batavia, tepatnya di kawasan Pancoran-Glodok, yang menjadi pusat pemukiman Tionghoa setelah peristiwa tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal kawasan Glodok di Batavia atau Jakarta saat ini.

Jika berkunjung ke kawasan Pancoran-Glodok rasanya tidak afdol jika tidak mampir ke Pantjoran Tea House yang letaknya persis di dekat gerbang selamat datang Pancoran-Glodok.

Pantjoran Tea House (Dok.pribadi)

Pantjroan Tea House sudah berdiri sejak tahun 1635. Awalnya sebelum jadi kedai teh, bangunan ini merupakan toko obat tertua di Batavia bernama Apotheek Chung Hwa yang berdiri sejak 1928.

Daya Tarik dari kedai teh ini ialah tradisi "Patekoan" yang sudah turun temurun dari Kapitan Gan Djie, pemilik tunggal bangunann ini. Adapun "Patekoan" merupakan tradisi menyediakan teh gratis buat siapapun orang yang lewat.

Kalau kamu ke sana, tradisi tersebut mudah ditemui di bagian depan kafe. Jadi, ada delapan buah teko bewarna hijau yang sudah diisi dengan seduhan teh, dan pengunjung bisa mencoba tehnya secara gratis.

Setelah melihat cerita dari di balik Pantjoran Tea House, kami pun pergi menelusuri lorong yang berada di kawasan ini. Nuansa vintage semakin terasa saat kami tiba di Toko Obat Tay Seng Ho yang sudah berdiri sejak zaman Jepang tahun 1920-an. Toko obat ini menjual beragam obat herbal yang langsung didatangi dari China. Segala jenis obat untuk berbagai macam penyakit dijual di sini, tapi kayaknya yang enggak ada tuh obat sakit hati deh, hehehe. 

Toko Obat Tay Seng Ho (Dok.pribadi)

Petak Sembilan sendiri terletak di Gang Pancoran, Glodok, Jakarta Barat. Lokasinya tepat berada di belakang Pasar Glodok. Kalau ke sini, kamu bakal banyak menemukan bahan makanan mulai dari sayur, aneka hasil laut, hingga dagangan yang kurang familiar seperti kodok sawah atau teripang.

Di gang ini juga ada Toko Jaya Abadi yang menjual perlengkapan untuk ibadah hingga lamaran. Uniknya di toko ini ialah bisa melihat barang-barang branded yang terbuat dari kertas. 

Usai menelusuri gang di Petak Sembilan, akhirnya kami sampai di Wihara Dharma Bakti yang dibangun tahun 1650 dan merupakan vihara terua di Jakarta. Di dalam vihara ini ada 27 patung dewa, salah satunya Patung Dewi Kwan Im.

Tembok merah serta ornament khas Tionghoa semakin memperkuat suasana saat akan memasuki tempat ini. Di dekat pintu gerbang, ada dua altar yang berdampingan yang mana merupakan rumah bagi malaikat.


Wihara Dharma Bakti (Dok.pribadi)

Di sini juga banyak sekali lilin raksasa bewarna merah serta wangi dupa di tengah banyaknya orang yang sedang berdoa.

Keluar dari Wihara Dharma Bakti, kami melanjutkan perjalanan ke Vihara Toa Se Bio yang merupakan tempat ibadah umat agama Budha tertua kedua di Jakarta setelah Wihara Dharma Bakti.

Gapura berwarna merah dan hiolo besar menyambut kedatangan kami. Di pintu masuk bagian sisi kanan dan kiri, ada dua patung berwujud laki-laki dan perempuan yang mirip dengan barongsai.

Sebelum masuk, kami pun diharuskan cuci tangan terlebih dahulu. Hal yang menarik saat berkunjung ke sini ialah tradisi baca nasib lewat ramalan atau Ciam Si.

Ciam Si merupakan sebuah tradisi kuno dari masyarakat Tionghoa untuk meminta peruntungan yang biasa dilakukan setiap pergantian tahun.


Vihara Toa Se Bio (Dok.pribadi)

Adapun cara melakukan tradisi ini ialah menyampaikan permohonan terlebih dahulu kepada dewa. Kemudian, mengocok tabung bambu berisi bilah-bilah yang memiliki nomor hingga salah satu bilah keluar. Tentu ini harus diingat ya nomor yang tertera.

Langkah selanjutnya ialah ambil dua potong kayu berbentuk oval bernama sia poe. Sia poe punya dua rupa permukaan, seperti dua sisi mata uang, yang mana nomor tersebut baru dianggap benar dan sesuai bila posisi jatuhnya kedua sisi sia poe berlainan. Jika keduanya tertelungkup, berarti kocokan bambu harus diulang.

Kemudian, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah mencari kertas di dalam laci, sesuai dengan nomor yang tertera pada batang bambu. Kertas tersebut berisi syair berbahasa Indonesia kuno yang menggambarkan jawaban dan saran atas pertanyaan yang diucapkan saat mengocok bambu.

Keluar dari Vihara Toa Se Bio, kami melihat Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Berbeda dari gereja pada umumnya, yang unik dari gereja ini ialah meskipun tempat ibadah ini milik umat katolik, namun arsitekturnya mengadopsi Tionghoa. Hal tersebut bisa dilihat dari atapnya yang bewarna merah, kuning, dan emas. 


Gereja Katolik Santa Maria de Fatima (Dok.pribadi)

Usai menelusuri ragam tempat ibadah di Glodok, kami pun menelusuri gang sempit yang membawa kami ke Petak Enam. Di Petak Enam banyak sekali ragam kuliner khas nusantara.

Senangnya ikutan walking tour kali ini ialah makan melulu! Aku dan peserta lainnya mendapatkan makanan khas Glodok, yaitu pia dan choipan. Pia yang aku dapatkan berisi durian yang toppingnya tuh tebal banget. Kemudian untuk rasa choipan-nya itu gurih dan ada isian ebi di dalamnya, makin mantap rasanya dibumbui dengan saos sambal. 


Petak Enam (Dok.pribadi)

Nyemil pai dan choipan sudah, waktunya aku bersama peserta yang lain jelajah Kota Tua Jakarta!

Beruntung hari itu cuacanya tidak begitu panas, jadi kami berdiri di area Taman Museum Fatahillah sembari mendengarkan cerita dari pemandu.

Di sini pemandu kami menceritakan sejarah Kota Tua yang dulu pernah menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan pada abad ke-17 hingga keberadaan sisa jalur trem peninggalan Hindia Belanda saat menduduki Batavia.

Sebelum mengakhiri perjalanan di hari pertama, kami pun diajak melihat stasiun peninggalan Belanda yang dulu bernama Beos dan sekarang lebih dikenal dengan Stasiun Jakarta Kota.



Stasiun Jakarta Kota (Dok.pribadi)


Balutan konsep art deco mewarnai Stasiun Kota Tua sehingga stasiun ini punya kesan yang megah dan besar, namun tetap sederhana.

Kemegahan tersebut, kini masih bisa dilihat lewat bentuk bangunannya yang tinggi, serta bentuk atap baja yang melengkung. Pokoknya stasiun ini aesthetic banget deh buat foto-foto!

Melanjutkan Menelusuri Monas hingga Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral

Hari Rabu (12/11), kami memulai tur pertama kami dari Monas. Kalau ke Monas biasanya aku banyak menghabiskan waktu di area taman.

Nah, untuk kali pertama aku berkesempatan menjajakan kaki ke pelataran puncak Monas yang berada di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Untuk memasuki pelataran puncak memang cukup lama antreannya dikarenakan lift hanya satu yang dijaga oleh satu petugas.

Setiba di atas, angin kencang dari berbagai penjuru menyapa tubuhku. Beruntung hari itu cuaca cerah dan saya bisa melihat Jakarta dari segala penjuru.

Tanpa teropong dengan mata telanjang, dari arah utara terlihat kepulauan seribu dan pelabuhan. Dan dari arah selatan, terlihat panorama Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango.


Pemandangan Jakarta dari Puncak Monas (Dok.pribadi)

Dengan jatah waktu 10 menit, di sini pemandu menceritakan asal usul Monas yang memiliki tinggi 132 meter itu. Jadi lewat paparannya, Monas didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial.

Arsitek Monas saat itu adalah Frederich Silaban yang juga merancang desain pembangunan Masjid Istiqlal. Sesuai keinginan Bung Karno, Monas berupa tugu yang tegak berdiri dengan cawan sebagai wadah di bagian bawahnya. Bentuknya disebut Lingga-Yoni, yang menandakan simbol hubungan sakral antara laki-laki dan perempuan sekaligus lambang kesuburan.

Berhubung waktu kami cuman sebentar, kami pun tidak bisa melihat ruangan yang berada Monas secara keseluruhan. Jadi menurut pengelola Monas, di bagian dasar monumen, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia.

Kedua anak sekolah melihat Jakarta dari Puncak Monas (Dok.pribadi)

Di dalamnya ada diorama dari masa pra sejarah hingga Orde Baru. Kemudian di bagian dalam cawan monumen terdapat ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang menyimpan naskah asli teks proklamasi.

Usai melihat Monas dari jarak dekat, kami pun lanjut mengunjungi Masjid Istiqlal, yang merupakan masjid terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Bersama pengurus Masjid Istiqlal, Ia menjelaskan bahwa masjid ini dirancang oleh arsitek yang sama yang membangun pembangunan Monas, yaitu Frederich Silaban yang memenangkan sayembara desain masjid nasional. Kubah utama masjid ini berdiameter 45 yang melambangkan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemudian lantai yang terdiri dari 5 lantai, menyimbolkan lima sila Pancasila serta rukun Islam. Sedangkan 12 tiang yang berada di dalam Masjid Istiqlal merupakan simbol kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Masjid Istiqlal (Dok.pribadi)

Di tengah hembusan angin yang masuk melalui ventilasi, aku pun mendengarkan paparan terkait Masjid Istiqlal ini dengan seksama. Menurut pengurus, masjid ini menerapkan gaya arsitektur Indonesia dan Timur Tengah.

Kesejukan masjid Istiqlal ini juga bikin kita nyaman berlama-lama dikarenakan sang arsitektur mengusung konsep ventilasi alami yang muncul dari balik dinding. Lantainya juga dilapisi marmer yang mampu menyerap panas yang menyentuh permukaannya. Coba bayangin kalau enggak ada ventilasi alam, berapa banyak pendingin yang musti dipasang di Masjid Istiqlal?

Usai penjelasan yang cukup panjang oleh pengurus Masjid Istiqlal. Kami pun mengisi perut di Terasultan yang masih berada di kompleks Masjid Istiqlal.

Jujur saya baru tahu juga kalau di kompleks Masjid Istiqlal terdapat Resto Timur Tengah yang menyajikan menu nasi kebuli, nasi mandhi, dan nasi kabsah.

Makan siang kali ini super enak sekali, akhirnya aku bisa menikmati nasi kebuli yang mantap rasanya! Kombinasi rempah nasinya menciptakan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang khas. Ditambah es teh leci sebagai minuman pendamping yang manis dan juga segar. Pokoknya kalau kamu ke Masjid Istiqlal, wajib datang ke Terasultan. Mantap betul rasanya!

 

Nasi kebuli di Terasultan (Dok.pribadi)

Nah, setelah makan dan melaksanakan salat zuhur, kami beranjak ke Terowongan Silaturahmi. Selain sebagai ikon kebhinekaan, pembangunan terowongan ini dibangun guna memudahkan akses jamaah antar-bangunan rumah ibadah untuk memenuhi kebutuhan ruang parkir tanpa mengganggu arus lalu lintas saat ini.

Terowongan Silaturahmi Istiqlal- Katedral (Dok.pribadi)

Kami tidak lama berada di Terowongan Silaturahmi ini, dan langsung menuju Museum Katedral yang letaknya berada di kompleks Gereja Katedral.

Diresmikan pada 28 April 1991, Museum Katedral jadi saksi bisu perkembangan Gereja Katolik di Indonesia. Pembuatan Museum Katedral diprakarsai oleh pastor kepala Katedral pada waktu itu, yaitu Peter Rudolf Kurris. Hal ini berawal dari rasa cinta Kurris terhadap sejarah dan benda-benda bersejarah.

Di sini kami bisa melihat koleksi benda liturgi bersejarah, berbagai koleksi dan catatan sejarah perkembangan agama katolik.

Setiap ruangan di dalam museum ini memiliki beberapa zona. Di bagian pertama, kita melihat zona yang mengisahkan sosok Pastor Rudolphus Kurris. Kemudian sejarah bagaimana agama Katolik dibawa masuk para misionaris ke Indonesia, sampai ke masa keuskupan saat ini.

Lanjut ke lantai dua, kami pun melihat buku Paduan Suara Sesilia, saat mereka bernyanyi saat pemberkatan Katedral Jakarta pada tanggal 21 April 1901.

Sepeda Onthel Milik Pater Jan Weitjen,SJ (Dok.pribadi)

Dan masih di lantai yang sama namun ruangan berbeda, di sini aku juga melihat benda-benda peninggalan uskup, seperti jubah, peralatan misa, hingga replika altar.

Selain benda peninggalan uskup, kami pun diajak melihat buku baptis dan buku catatan pernikahan. Dua buku itu dipajang dalam sebuah etalase dan menjadi salah satu dokumen pelayanan pertama Gereja Katedral di Batavia.

Tak terasa hari pun semakin sore, setelah berkunjung ke Museum Gereja Katedral, kami pun menyantap early dinner di Kedai Tjikini. Kedai berkonsep vintage ini bikin suasana semakin syahdu.

Di sini, aku dan peserta lainnya menutup perjalanan mencari cerita Jakarta dengan berbagi akun Instagram untuk kita saling follow. Ah sungguh momen perjalanan yang manis. 


Foto bersama (Dok. Wahana Edukasi)

Komentar