Langsung ke konten utama

Unggulan

Tidak Harus Lulusan IT, Ini Tips Jitu Berkarir di Bidang Tech dan Artificial Intelligence dari Nol!

  Pekerjaan di bidang tech semakin banyak peminatnya, beragam profesi yang berkaitan dengan Artificial Intelligence banyak bermunculan (Photo by Nicole Wolf on Unsplash) Apakah saat ini kamu berkarir di sektor non-IT dan sedang merasakan karirmu berjalan di tempat dengan gaji yang segitu saja, sementara perkembangan Artificial Intelligence (AI) terus menggeser pekerjaanmu? Memang tidak bisa dipungkiri jika perkembangan Artificial Intelligence (AI) memicu kekhawatiran sebagian besar para pekerja non-IT. Namun dengan maraknya fenomena ini, mengapa tidak manfaatkan momentum ini untuk memulai karir saja ke bidang tech ? Terlebih sekarang ini sudah banyak profesi di bidang tech yang bermunculan berbasis Artificial Intelligence (AI), mulai dari Data Analyst, Data Scientist, Cybersecurity Analyst, hingga Artificial Intelligence & Machine Learning Engineer. Meski memulai karir dari yang sebelumnya non-IT ke bidang tech  tidaklah mudah dikarenakan perlu mempelajari skill teknis, na...

Melihat Jejak Sejarah Peranakan Tionghoa di House of Tugu Jakarta




Restoran Jajaghu House of Tugu (Dokumentasi pribadi)


Kawasan wisata Kota Tua merupakan salah satu ikon yang populer yang ada di Jakarta Barat. Ada banyak tempat wisata di Kota Tua yang bisa dijadikan destinasi wisata, seperti Museum Fatahillah, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, hingga Museum Seni Rupa dan Keramik.

Namun di antara tempat yang terlihat mainstream, nyatanya di area kawasan Kota Tua Jakarta terdapat sebuah bangunan unik yang di dalamya menawarkan hotel butik, cafe, dan restoran yang berkonsep Peranakan Tionghoa, bernama House of Tugu Jakarta.

Berlokasi di seberang Halte Kali Besar, bangunan yang di kelilingi pohon rindang tepat pada pintu masuk membuat House of Tugu mempunya ciri khas tersendiri di antara bangunan lain di sekitarnya.

Nah belum lama ini aku berkesempatan ke sana karena menang giveaway tur spesial dari UPK Kota Tua Jakarta bersama 34 peserta. Nuansa vintage menyelimutiku ketika melihat arsitektur dari bangunan ini dikarenakan setiap dinding maupun atap langit banyak terdapat ukiran estetik yang aku sendiri kurang tahu makna di baliknya. Selain itu, di sini juga terdapat berbagai koleksi benda peninggalan sejarah, barang antik, dan karya seni yang menunjukkan kekayaan budaya di Jakarta.

Dari Gudang Gula dan Kantor Organisasi Tionghoa, Kini Jadi Hotel dan Museum

Sepanjang menelusuri House of Tugu, pengelola House of Tugu yang mendampingi tur kali ini menceritakan sejarah asal usul House of Tugu. Dahulu bangunan ini merupakan rumah dari seorang saudagar Tionghoa bernama Oei Tiong Ham yang rumahnya tidak boleh dikunjungi oleh orang, makannya dibangunlah tembok di sekeliling rumahnya. 

Bangunan ini juga dulunya pernah menjadi gudang gula dan kantor organisasi Tionghoa. Dan kini House of Tugu telah berubah menjadi hotel butik yang memadukan elemen vintage Peranakan dengan kenyamanan modern.

Perjalananku dan peserta yang lain dimulai dari Restoran Jajaghu. Restoran ini cukup besar dan ada 3 ruangan berbeda, mulai dari area bar, area lounge, dan area pribadi yang dibuat khusus untuk pertemuan sosial dan acara pribadi. Hal yang unik dari restoran ini ialah pohon besar dan juga keberadaan patung kayu besar Raja Kertanegara di dalam ruangan.

Area bar di House of Tugu (Dokumentasi pribadi)

Setelah menelusuri Restoran Jajaghu, kami pun diajak ke sebuah pintu besar yang menembus ke Halaman Borneo. Kesan asri menyelimuti karena di sekelilingnya banyak pohon-pohon rindang. Di tengah halaman ini, kami bisa melihat banyak patung, salah satunya patung batu Rangkok Badaka yang merupakah simbol kekayaan Budaya Kalimantan.

Halaman Borneo (Dokumentasi pribadi)

Masih di lantai yang sama, kami pun diajak ke Ruang Sumba. Di sini, kita bisa melihat karya seni hingga artefak dari berbagai suku yang ada di Indonesia, mulai dari Bali, Lombok, Sumatera, Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan juga Sumba. Bahkan di ruangan ini juga terdapat salah satu spot yang menampilkan sebuah foto Charlie Chaplin sebagai kenangan bahwa komedian tersebut pernah mengunjungi Garut, Jawa Barat, pada 1926. Koleksi ini diabadikan karena Oei Tiong Ham juga pernah menjadi distributor film-film Hollywood di Indonesia.

Spot Charlie Chaplin (Dokumentasi pribadi)

Dikatakan pengelola House of Tugu Jakarta, nantinya juga akan dibuka museum Peranakan sehingga lebih memudahkan masyarakat mempelajari kisah masa lalu Jakarta. Karena masih renovasi, sayangnya saat walking tour, kami belum bisa melihat ke dalam.

Naik ke lantai atas terdapat Aula De Harmonie yang merupakan penghormatan kepada Gedung Harmonie yang bersejarah di Batavia pada masa kolonial Belanda. Aula ini menyimpan pintu asli dari Gedung Harmonie yang telah dirobohkan, serta kunci-kunci bersejarah lainnya. Tempat ini sering Sering digunakan sebagai lokasi acara seperti pernikahan, makan malam mewah, dan pertunjukan seni.

Dan itulah sepenggal cerita walking tour mengunjugi House of Tugu Jakarta yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta yang nyatanya masih banyak menyimpan sejarah Peranakan di Jakarta yang dapat kita lihat melalui koleksi artefak, karya seni, dan barang-barang Peranakan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Foto bersama peserta (Dokumentasi UPK Kotu)
Foto bersama (Dokumentasi UPK Kotu)




Komentar